Mahameru adalah
sebutan lain dari Gunung Semeru yang berketinggian 3.676 mdpl dan
menempatkan sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa. Dan merupakan salah satu
gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, di antara wilayah administrasi Kabupaten
Malang dan Lumajang.
Puncak Gunung Semeru ( Mahameru ) dapat terlihat dengan
jelas dari Kota Malang dan beberapa tempat lainnya dengan bentuk kerucut yang
sempurna, tapi pada kondisi yang sebenarnya di puncak berbentuk kubah yang luas
dengan medan beralun disetiap tebingnya. Kawah Jonggring Saloko pada tahun 1913
dan tahun 1946 mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan
daerah Pasirian, Candipura dan Lumajang.
Gunung Semeru adalah bagian termuda dari Pegunungan
Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato - vulkano luas yang terpisah.
Aktivitas material vulkanik yang dikeluarkannya berupa Letusan abu, lava blok
tua dan bom lava muda, Material lahar vulkanik bercampur dengan air hujan atau
air sungai, Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran, Pertumbuhan
lambat / berangsur dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.
Formasi geologi Gunung Semeru merupakan hasil gunung api
kwarter muda, dengan jenis batuan terdiri dari : abu pasir / tuf dan vulkan
intermedian sampai basis dengan fisiografi vulkan serta asosiasi andosof kelabu
dan regosol kelabu dengan bahan induk abu / pasir dab tuf intermedian sampai
basis. Bentuk struktur geologi menghasilkan batuan yang tidak padat dan tidak
kuat ikatan butirannya, mudah tererosi dimusim penghujan.
Jenis tanahnya adalah regosol, merupakan segabungan tanah
dengan sedikit perkembangan profil dengan sedikit perkembangan profil dengan
solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh. Pada umumnya ditempat tinggi
lainnya, daerah sepanjang route perjalanan dari mulai Ranu Pane ( 2.200 mdpl )
sampai Puncak Semeru mempunyai suhu relatif dingin. Suhu rata - rata berkisar
antara 30C – 80C pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar
antara 00C – 120C kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es yang
terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya.
Dinginnya suhu disepanjang route perjalanan ini bukan
semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin
yang berhembus ke daerah ini menjadi udara semakin dingin. Berdasarkan
topografi kawasan secara makro, pada tiupan angin membentuk pola yang tidak
menentu dalam arti dominasi arah angin sulit ditentukan selalu berubah - ubah.
Bentuk topografi yang dilingkari oleh tebing tinggi sekitar 200 - 500 meter
sebenarnya memungkin dapat menahan arus kecepatan angin, tetapi karena banyak
celah / lorong tebing tersebut, maka arus angin tidak tertahan bahkan melaju
dengan kecepatan yang lebih cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar